Takut Memulai

takut memulai

Pemuda itu berjalan pelan menuju loket dimana tiket-tiket bergeletakan dan orang-orang bersahutan. Ia mengeluarkan selembar kertas,kemudian seorang penjaga loket menempelkan sebuah cap berbentuk persegi panjang pada pergelangan lengannya.

Lima menit sesudahnya, dia telah duduk di depan sebuah gelanggang, di belakangnya terdengar riuh petikan gitar menghentak disertai teriakan-teriakan yang memekakan telinga – ya,dia memang tak begitu suka lagu-lagu keras, lebih baik menunggu sedikit lama sebelum pemusik-pemusik kesukaannya naik panggung dibanding harus masuk ruangan penuh sesak hanya untuk terbentur-bentur diantara remaja-remaja labil berbaju hitam yang menghantam-hantam siku mereka dengan radius 360 derajat.

Matanya memandang tajam beberapa wanita yang berlalu-lalang di depannya. “7,6,hmm okay that one’s an eight…” angka-angka dari rasio 1 sampai 10 berkelebatan di benaknya seiring mata hitamnya menyapu mata-mata di depannya.

Tangannya merogoh saku,mengambil sebuah pemantik berlabel salah satu minimarket ternama di kotanya, dan dengan sebuah percikan, sebatang rokok yang tergantung di mulutnya mulai menyala.

Selesai menyalakan rokok, matanya kembali mencari… dan BANG! sesosok tubuh dengan wajah elok lewat di hadapannya, dikelilingi oleh beberapa tubuh lain yang sepertinya menemaninya berjalan.

And I’m telling you, SHE WAS A PERFECT 9! HIS perfect 9!

Matanya yang memandang malu dibalik bulu matanya yang lentik,

Cara dia menyibakkan rambutnya,elegan

Posturnya yang tegak namun lembut

Langkah-langkahnya yang begitu anggun…

Dalam sekejap pikiran pemuda itu menjadi sebuah papan catur, sibuk menyiapkan langkah-langkah dan menghitung cermat probabilitas keberhasilannya dengan banyak sekali variabel, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang 9 untuk duduk atau diam di suatu tempat terlebih dahulu, so she could be comfortable and it’ll be easier for the boy to approach her.

Tak berselang lama, ketika mata sang pemuda masih mengikuti setiap gerakan dari 9 -nya, telepon genggam di saku celana kanannya bergetar.

Ia pun segera beranjak untuk mencari tempat yang tak terlalu berisik dan segera mengangkat panggilan tersebut.

“Rey, lu cepetan ke PVJ, ini anak-anak baru udah pada dateng”

“Okay bentar lagi gw kesana,20 menit”

“Ya, cepetan aja bro,thanks”

It was his call of duty, and he really gotta go.

Ah, tapi dia teringat lagi akan sang wanita yang tadi dia lihat…

Dia mulai berjalan dan langkah-langkahnya semakin cepat, dia sadar tak banyak lagi waktu tersisa.

5 menit,300 detik,untuk menemukan sang 9 dan mendapatkan nomor teleponnya sehingga dia dapat berlalu dari gelanggang penuh sesak itu dengan tenang.

Setiap sudut dia susuri, tapi memang sulit mencari satu orang diantara 3000 orang yang memenuhi area tak terlalu luas itu.

Wanita itu bisa saja berjalan ke arah yang berlawanan ketika si pemuda berjalan mencari ke arahnya, probabilitasnya memang terlalu rendah, benar-benar seperti mencari jarum diantara tumpukan jerami,tapi dalam catatan,jarum dan jeraminya terus BERGERAK.

“Ah,Shit!” waktu yang tepat untuk mengeluarkan kata-kata tersebut, I guess…

Dan tak ada lagi yang bisa dia lakukan saat itu,kecuali menyesali waktunya yang terbuang sia-sia.

Bad day for that boy…

  Haha, saya rasa anda semua pasti sudah bisa menebak.

Ya, pemuda di cerita itu adalah saya sendiri. Dan hingga detik ini, saya tak pernah bertemu lagi dengan wanita tersebut.

Menyesal? Yeah, maybe.

  Tapi selayaknya hukum aksi reaksi (dimana ada aksi/perbuatan, pasti ada reaksi/respon),

selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa, walaupun mungkin peristiwa tersebut terkesan tidak mengenakkan pada saat itu.

Dan saya bahagia karena saya dapat membagi pengalaman saya dengan anda!

Jadi kesimpulannya?

Ketika anda melihat seseorang yang begitu menarik bagi diri anda, dan anda merasa bahwa anda akan SANGAT menyesal jika tidak mendekatinya, hanya ada tiga pilihan :

Pilihan pertama :  MAJU

  Pilihan kedua :  MAJU

  Dan pilihan ketiga adalah opsi yang PALING penting :  MAJU!

 

“tapi gue takut bro…”

Hmm, saya yakin anda pasti pernah mendengar bahwa rasa takut hanyalah sebuah ilusi, bukan?

Bersiaplah untuk terkaget-kaget, karena ada satu rasa takut yang nyata!

Anda mungkin sekarang sedang bertanya-tanya,

“Loh, masa sih ? kalo nyata berarti bahaya dong? Jadi makin takut nih!”

Ya, BENAR ! Rasa takut yang akan saya bisikkan kepada anda ini adalah satu jenis rasa takut yang nyata…

 

 

Ingin konsultasi dengan Habibi Rizqi Ramadhan? Yuk add pin BBM 270B4197 atau dapat janji konsultasi gratis dengan menghubungi 085780890596
BAGIKAN
Artikel sebelumyaSaya Belajar dari Orang Tua
ArtikelberikutnyaJadikah pasanganmu sebagai Super Hero
Professor selalu menganalisa dari sudut pandang galau untuk mencari pemikiran cerdas dan membongkar fenomena yang terjadi di Indonesia. Beliau juga bersedia mendengarkan curhatan untuk sahabat Gapcer

TIDAK ADA KOMENTAR