Romance Era

Terjadi banyak sekali perubahan–perubahan tata cara dalam romansa dari abad ke abad, semua berlangsung simultan seiring berkembangnya zaman dan teknologi, perubahan–perubahan ini kian terasa juga akibat berubahnya sifat dan watak dari pribadi pelaku romansa tersebut, sebut saja pria dan wanita. Dahulu kala wanita adalah kaum kelas 2 yang hanya dijadikan sebagai seorang pembantu tidak lebih, tidak bisa menjadi pemimpin atau berkedudukan dalam sebuah tahta kerajaan, sejarah membuktikan sangat sedikit sekali wanita menjadi raja dam sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang kita semua sudah mempelajari sejak di bangku SD. Sedangkan seorang pria dahulu adalah kaum yang lebih dihormati dan berwenang lebih dibanding wanita, semua tonggak kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh pria, membuat pria sebagai raja dan penguasa, sejarah juga membuktikan demikian, bahkan sampai sekarang pun dimana sudah ada yang namanya “kesetaraan gender” laki-laki masih menjadi pemimpin dan penguasa.

Namun uniknya dunia romansa zaman kakek nenek anda dahulu jauh berbeda dengan romansa anak remaja zaman sekarang, dimana dahulu proses bertemunya dua insan sangat mudah dan tanpa perlu proses yang berbelit–belit, tanpa adanya gengsi, mereka bertemu. Jatuh cinta dan bahagia sampai tua. Lain halnya dengan saat ini, dimana proses sudah sangat kompleks, dimana pria jika suka pada wanita harus melaksanakan ‘PDKT’ terlebih dahulu kepada wanita selama beberapa waktu, jika momentnya tepat sang pria akan menembak wanita atau menyatakan keinginanya untuk menjadikan wanita sebagai pacar atau kekasihnya, jika diterima sang lelaki pun akan senang tiada tara dan jika ditolak itu akan membuatnya stress dan frustasi, sulitnya berhubungan adalah juga karena wanita gengsi untuk menyatakan cinta pada seorang pria.

Keunikan ini terjadi seiring dengan perubahan sifat asli atau dasar dari pria maupun wanita itu sendiri, dimulai dari wanita. Dahulu wanita ditugaskan sebagai seorang pelayan yang bertugas di rumah, mereka mengurus anak, memasak, merawat rumah dan taman serta melayani suami sehabis pulang bekerja. Itu adalah sebuah system yang sangat terpadu, dilihat dari sifat wanita yang peduli dan penyanyang sehingga hanya wanitalah yang berhak menyandang gelar Ibu, karena hanya wanita yang mampu memberikan kasih sayang dan kepedulian sangat besar kepada anak dan suaminya. Membuat system bekerja sangat baik mengingat kemampuan khas milik wanita diberikan pada tempat yang tepat baginya.Lain halnya dengan sekarang, dimana wanita lebih memilih untuk bisa juga menjalankan tugas dari seorang pria, ini terjadi dengan adanya gerakan kesetaraan gender yang wanita inginkan, mereka iri melihat pria dan memberontak agar bisa sepertinya, ingat kata kuncinya ‘memberontak’. Jika memberontak ini berari melawan sifat asli dari wanita tersebut dan membunuh karakter wanita yang sejatinya adalah penyanyang.

Selanjutnya adalah pria, pria zaman dahulu karena memiliki tubuh yang kuat, maka pria bekerja di luar rumah seperti berperang, memburu dan aktivitas lainnya. Tugas pria adalah mencari nafkah dan menghidupi anak dan istrinya, sifat kepemimpinan menjadi sifat utama pria karena bertugas sebagai pemimpin pada keluarga, sehingga pada politik pria memilik karisma besar untuk bertindak sebagai pemimpin, ini juga tidak terlepas dari pekerjaan pria yang berada di luar rumah. Sebuah system yang sangat stabil jika di lihat, karena sifat asli pria adalah pemimpin dan bertanggung jawab , bahkan ketika menghamili seorang wanita maka prialah yang diminta bertangung jawab bukan wanita. Perubahan yang terjadi saat ini kebanyakan pria adalah mereka tidak berlaku pada sifat aslinya, perubahan pria lebih sedikit dibanding wanita, hanya saja kesalahannya adalah dalam berhubungan pria terlalu banyak memeberikan kepemimpinan pada wanita, mungkin istilah yang sedang trend adalah ‘suami takut istri’ . Pria terlalu berfikir dengan logika dan menjadikan wanita bahkan sebagai raja

Namun sejatinya kata ‘kestaraan gender’ adalah isapan jempol belaka, wanita sampat detik ini tidak ada yang mampu menggantikan posisi pria sepenuhnya atau setidaknya berperan sama dengan pria, semua kembali ke hukum alam saat ini, dimana saat wanita bertindak sebagai penyanyang dan pria bertindak pemimpin lah kehidupan romansa akan berjalan lancar. Di luar itu saya jamin kehidupan romansa akan berantakan dan berjalan tidak sesuai, ini seperti menempatkan sebuah barang tidak pada tempatnya membuat barang tersebut tidak dapat digunakan

Ingin konsultasi dengan Habibi Rizqi Ramadhan? Yuk add pin BBM 270B4197 atau dapat janji konsultasi gratis dengan menghubungi 085780890596
BAGIKAN
Artikel sebelumyaFenomena ‘Brainwash’ di Indonesia
ArtikelberikutnyaKeanehan Wanita dalam Romansa
Professor selalu menganalisa dari sudut pandang galau untuk mencari pemikiran cerdas dan membongkar fenomena yang terjadi di Indonesia. Beliau juga bersedia mendengarkan curhatan untuk sahabat Gapcer

TIDAK ADA KOMENTAR